Beberapa waktu yang
lalu, tepatnya pada tanggal 18 Oktober 2012, saya dan Ferry merayakan ulang
tahun pernikahan kami yang ke-3; umur pernikahan yang masih masih sangat muda (‾⌣‾"٥)"
Meskipun sebelum menikah
kami sudah menjalin hubungan selama 1 dekade, namun kehidupan pernikahan telah
memberikan kami banyak sekali pelajaran baru. Saya sepenuhnya menyadari bahwa kehidupan
pernikahan kami masih sangat panjang untuk dijalani dan masih banyak hal-hal
yang akan kami hadapi untuk kami bisa belajar semakin baik setiap harinya dan
menjadi pasangan yang memberkati semakin banyak orang.
Terinspirasi dari Mrs. Tsh
{Simple Mom}, saya juga mulai berpikir mengenai hal-hal yang saya pelajari
selama tiga tahun berlalu sejak saya menerima Ferry sebagai suami saya
satu-satunya melalui janji pernikahan dalam pemberkatan nikah kudus.
Sesungguhnya banyak
sekali yang saya {dan Ferry} pelajari, namun setidaknya ada tiga hal utama yang saya secara pribadi belajar sangat
banyak {dan masih terus saya akan belajar for my lifetime}:
1.
A marriage life is not
easy
Seperti yang juga
disampaikan Mrs. Tsh, siapa pun yang mengatakan bahwa pernikahan adalah hal
yang mudah adalah seseorang yang belum pernah menikah •”̮•ћë..ћë..ћë•”̮•
Yup, pernikahan bukanlah hal yang mudah; berkomitmen kepada seseorang yang
masih penuh kekurangan, menjaga hati dan sikap untuk memegang komitmen, tunduk
kepada suami sebagai kepala keluarga, dan banyak hal lainnya yang menuntut
penyerahan hak dan penyangkalan diri; dan pastinya harus dilakukan seumur
hidup!
Satu hal yang selalu
saya ingat, life isn't about easy things! Ya, Tuhan tidak pernah memberikan
hal-hal mudah dalam hidup kita, semua memerlukan usaha dan pengorbanan. Sesuatu
yang tidak mudah bukan berarti sesuatu yang buruk kan? Demikian juga sebuah
pernikahan! Karena pernikahan adalah idenya Tuhan, maka saya yakin bahwa
pernikahan merupakan sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan (⌒˛⌒)
2.
The power of a holy
matrimony is true
Kami bersyukur bahwa
kami memiliki kesempatan untuk dibina dalam bimbingan pra-nikah di dalam gereja
lokal. Meskipun hanya setahun lamanya sebelum hari pernikahan kami, namun
masa-masa itu membawa dampak besar bagi hubungan kami, khususnya ketika ada di
dalam sebuah pernikahan.
Dalam bimbingan
pra-nikah, kami dibina agar memiliki persiapan untuk kehidupan rumah tangga
kami kelak. Selain itu, fokus kami untuk hari-H pernikahan tidak lagi pada
acara resepsi, melainkan acara pemberkatan. Kenapa? Karena kami sadar bahwa
acara pemberkatan nikah lah yang akan membawa dampak kekal bagi hubungan kami.
Ketika banyak orang
mencurahkan banyak energi, waktu, dan uang untuk merencanakan sebuah pesta
pernikahan meriah, kami diarahkan untuk mempersiapkan acara pemberkatan yang
dihadiri oleh Tuhan! Selama masa persiapan, setiap hari kami berdoa bersama via
telepon untuk acara yang kami rencanakan. Satu hal utama yang kami minta kepada
Tuhan adalah Tuhan berkenan hadir dalam pemberkatan nikah kami dan memberkati
secara langsung pernikahan kami.
Siapa pun yang hadir
saat pemberkatan nikah kami menjadi saksi bagaimana hadirat Tuhan begitu nyata
dirasakan setiap orang di dalam ruangan. Dan pengalaman itu menjadi suatu dasar
yang penuh kuasa bagi kehidupan pernikahan kami.
Janji nikah mempelai
pria :
Oleh anugrah dan kasih
sayang Bapa Surgawi, hari ini, Minggu, 18 Oktober 2009, saya, Ferry Sutanto, di
hadapan Allah, keluarga, dan jemaat, mengambil Fiona Harjono sebagai
istri saya satu-satunya.
Saya berjanji untuk
bertanggung jawab sebagai suami yang memimpin, melindungi, dan mengasihi Fiona
Harjono, juga menjadi bapa yang bijaksana untuk anak-anak yang Tuhan percayakan
dan mendidik mereka dalam jalan Tuhan.
Janji ini akan saya
lakukan baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun
sakit, dan dalam keadaan apapun juga, sampai kami dipanggil Bapa pulang ke
Surga.
Janji nikah mempelai
wanita :
Oleh anugrah dan kasih
sayang Bapa Surgawi, hari ini, Minggu, 18 Oktober 2009, saya, Fiona Harjono, di
hadapan Allah, keluarga, dan jemaat, menerima Ferry Sutanto sebagai suami saya satu-satunya.
Saya berjanji untuk
bertanggung jawab menjadi istri yang tunduk, hormat, melayani, dan mendukung
Ferry Sutanto, juga menjadi ibu yang bijaksana untuk anak-anak yang Tuhan
percayakan dan mendidik mereka dalam jalan Tuhan.
Janji ini akan saya
lakukan baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun
sakit, dan dalam keadaan apapun juga, sampai kami dipanggil Bapa pulang ke
Surga.
Saat
mengalami banyak tantangan, acara pemberkatan nikah kami; janji nikah, doa
berkat, Firman Tuhan; menjadi suatu dasar yang kokoh agar kami bisa tetap
menjalani hidup pernikahan sesuai kehendak Tuhan.
Perjamuan Kudus:
Inilah Tubuh Kristus
yang diserahkan bagi kita. Dengan kita makan Perjamuan
Kudus ini kita mengingat akan pengorbanan Yesus yang menyelamatkan kita dan
menjadi anugrah agar kita saling mengasihi sama seperti Allah mengasihi kita.
Mari makan dengan iman di dalam nama Yesus.
Inilah Darah Kristus yang dicurahkan bagi kita. Dengan kita
minum Perjamuan Kudus ini kita mengingat akan Darah Yesus sebagai pengampunan
atas dosa kita dan menjadi anugrah agar kita saling mengampuni sama seperti
Allah sudah mengampuni kita. Mari makan dengan iman di dalam nama Yesus.
3.
It’s not about us, it’s
all about Him
Pernikahan adalah ide
Tuhan, bukan ide manusia, maka kehidupan pernikahan sepenuhnya adalah mengenai
Dia, bukan lagi saya atau suami.
Tema pada pemberkatan
nikah kami yang juga tertulis di dalam undangan pernikahan kami:
“And
let them make Me a sanctuary, that I may dwell among them”
{Exodus 25:8, NKJV}
“Dan mereka harus
membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.”
{Keluaran 25:8}
Pada konteks Alkitab,
ayat tersebut muncul saat Allah memberikan instruksi kepada Musa untuk membuat
Kemah Suci atau Tabernacle. Ayat teresebut menggambarkan kerinduan kami agar
kehidupan pernikahan kami memiliki dasar yang kudus agar menjadi tempat
kediaman Tuhan.
Di dalam perjalanan
hidup pernikahan, menjadikan rumah tangga sebagai tempat kediaman Tuhan berarti
menanggalkan segala hal yang tidak sesuai dengan karakter Tuhan; keegoisan,
kemarahan, dan sebagainya.
Saya secara pribadi
terus belajar bahwa kehidupan pernikahan yang kami bangun adalah kediaman Tuhan
dan segala sesuatunya tentang Dia, bukan lagi tentang saya, Ferry, atau pun
anak-anak kami.
A marriage is once for a lifetime that means a
lifetime of learning process.
Lagu pembukaan di acara pemberkatan nikah kami
merupakan sebuah lagu yang menjadi deklarasi di dalam kehidupan pernikahan
kami, bahwa Tuhan hadir di dalam kehidupan pernikahan kami secara luar biasa (⌒˛⌒)
As I Come into Your presence
Pass the gates of praise
Into Your sanctuary
‘till we’re standing face to face
I look upon Your countenance
I see the fullness of Your grace
And I can only bow down and say
You are awesome in this place Mighty God
You are awesome in this place Abba Father
You are worthy of all praise
To You our lives we raise
You are awesome in this place Mighty God
{Awesome in This Place}
---
















